Mau belajar tutorial dan dapatkan template gratis yang keren?
healthmails.blogspot.co.id

Wednesday, 15 October 2014

Virus Ebola Menjadi Kekhawatiran Bagi Penduduk Amerika

Penyakit Ebola bisa dikatakan penyakit yang mematikan, dan penyakit ini masih belum ditemukan obatnya. Semenjak 38 tahun silam hingga sekarang virus ini telah menewaskan setidaknya puluhan ribu orang.

Meski pihak kesehatan telah meyakinkan bahwa Ebola tidak mungkin menyebar di Amerika Serikat, kekhawatiran tentang penyakit ini berkembang sejak diumumkannya kasus pertama di Amerika minggu lalu dan mengapa orang Amerika menjadi takut terhadap Ebola?

Dilansir livescience.com. Sebuah survei oleh Pew Research Center baru-baru ini mendapati sekitar 11 persen orang Amerika mengatakan "sangat khawatir" bila mereka atau anggota keluarga akan terjangkit virus Ebola. Sementara 21 persen lain mengaku agak khawatir terjangkit virus ini.

Survei ini diadakan pada 2--5 Oktober, setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) mengumumkan seorang pria di Dallas, Texas, menjadi orang pertama yang didiagnosis terjangkit Ebola di Amerika.

Bulan ini juga, CDC menerima lebih dari 800 telfon per hari dari orang-orang yang khawatir terjangkit Ebola. Sebelum kasus Dallas, jumlahnya sekitar 50, kata Direktur CDC, Dr. Tom Frieden.

Di Dallas, para orang tua memulangkan anak-anak mereka dari sekolah, meski CDC telah menekankan bahwa Ebola hanya menyebar karena kontak dengan cairan tubuh dari seseorang yang menunjukkan gejala penyakit.

Meski kebanyakan orang Amerika menjalani keseharian mereka tanpa rasa takut terhadap Ebola--survei mendapati mayoritas responden mengatakan mereka tidak terlalu khawatir atau tidak khawatir sama sekali tentang virus itu--tetap saja ada kecemasan di luar sana terkait resiko disproposional, kata David Ropeik, seorang konsultan dalam resiko persepsi dan penulis "How Risky Is It, Really? Why Our Fears Don't Always Match the Facts" (McGraw-Hill, 2010).

Kekhawatiran terhadap virus Ebola disebabkan manusia biasanya terbatas dalam kemampuan mereka untuk membuat keputusan rasional tentang resiko. "Kita jarang memiliki waktu atau kecerdasan atau informasi mentah untuk membuat penilaian informasi lengkap tentang apa pun," kata Ropeik. "Hidup membutuhkan pilihan yang lebih cepat daripada itu."

Jadi manusia telah berevolusi untuk memahami informasi lebih cepat, kata Ropelik. "Kita ambil sedikit informasi yang datang dengan cepat dari sebuah berita atau teman--lalu mengubah penilaian kita," tambahnya.

Manusia akan mencari karakteristik tertentu untuk membantu mereka menilai dengan cepat apakah ada sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang baru akan lebih menakutkan buat manusia karena kita tidak memiliki pengalaman dengan hal baru itu, kata Ropeik menjelaskan.

Itu mengapa Ebola terlihat menakutkan daripada flu--meskipun faktanya adalah flu membunuh antara 3.000 hingga 49.000 orang setiap tahunnya, sedangkan Ebola hanya membunuh hanya satu orang di Amerika.

"Menghadapi sesuatu yang baru dan tidak memiliki pengetahuan tentang itu menimbulkan rasa bahwa kita harus bisa melindungi diri sendiri," kata Ropeik.

Orang juga merasakan bahwa sekali saja orang terjangkit virus Ebola, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan tentang itu (tidak ada obat untuk Ebola), dan memiliki tingkat kefatalan yang tinggi, kata Ropelik.

Gejala Ebola--yang meliputi muntah dan pendarahan--juga mempengaruhi persepsi kita tentang penyakit ini karena kesannya semakin banyak rasa sakit dan penderitaan. Ini membuat kita jadi ketakutan, kata Ropeik.

Faktor lain yang membuat orang lebih takut Ebola adalah karena berita-berita tentang virus mematikan ini telah menjadi berita utama di berbagai media massa. Tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan terhadap Ebola.

Orang harus menyadari bahwa emosi bisa menimbulkan persepsi, kata Ropeik. Jadi orang harus mencoba untuk tidak membuat penilaian spontan, dan mencari fakta--antara lain soal bagaimana Ebola menyebar, tambahnya.

Jangan khawatir terlalu berlebihan, sebab tingat kekhawatiran yang tidak sesuai bukti bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Kecemasan berlebihan akan menimbulkan stres dan bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh kita, demikian pungkas Ropeik.
Berita Kesehatan

Virus Ebola Menjadi Kekhawatiran Bagi Penduduk Amerika

Posted by Admin  |  No comments

Virus Ebola Menjadi Kekhawatiran Bagi Penduduk Amerika

Penyakit Ebola bisa dikatakan penyakit yang mematikan, dan penyakit ini masih belum ditemukan obatnya. Semenjak 38 tahun silam hingga sekarang virus ini telah menewaskan setidaknya puluhan ribu orang.

Meski pihak kesehatan telah meyakinkan bahwa Ebola tidak mungkin menyebar di Amerika Serikat, kekhawatiran tentang penyakit ini berkembang sejak diumumkannya kasus pertama di Amerika minggu lalu dan mengapa orang Amerika menjadi takut terhadap Ebola?

Dilansir livescience.com. Sebuah survei oleh Pew Research Center baru-baru ini mendapati sekitar 11 persen orang Amerika mengatakan "sangat khawatir" bila mereka atau anggota keluarga akan terjangkit virus Ebola. Sementara 21 persen lain mengaku agak khawatir terjangkit virus ini.

Survei ini diadakan pada 2--5 Oktober, setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) mengumumkan seorang pria di Dallas, Texas, menjadi orang pertama yang didiagnosis terjangkit Ebola di Amerika.

Bulan ini juga, CDC menerima lebih dari 800 telfon per hari dari orang-orang yang khawatir terjangkit Ebola. Sebelum kasus Dallas, jumlahnya sekitar 50, kata Direktur CDC, Dr. Tom Frieden.

Di Dallas, para orang tua memulangkan anak-anak mereka dari sekolah, meski CDC telah menekankan bahwa Ebola hanya menyebar karena kontak dengan cairan tubuh dari seseorang yang menunjukkan gejala penyakit.

Meski kebanyakan orang Amerika menjalani keseharian mereka tanpa rasa takut terhadap Ebola--survei mendapati mayoritas responden mengatakan mereka tidak terlalu khawatir atau tidak khawatir sama sekali tentang virus itu--tetap saja ada kecemasan di luar sana terkait resiko disproposional, kata David Ropeik, seorang konsultan dalam resiko persepsi dan penulis "How Risky Is It, Really? Why Our Fears Don't Always Match the Facts" (McGraw-Hill, 2010).

Kekhawatiran terhadap virus Ebola disebabkan manusia biasanya terbatas dalam kemampuan mereka untuk membuat keputusan rasional tentang resiko. "Kita jarang memiliki waktu atau kecerdasan atau informasi mentah untuk membuat penilaian informasi lengkap tentang apa pun," kata Ropeik. "Hidup membutuhkan pilihan yang lebih cepat daripada itu."

Jadi manusia telah berevolusi untuk memahami informasi lebih cepat, kata Ropelik. "Kita ambil sedikit informasi yang datang dengan cepat dari sebuah berita atau teman--lalu mengubah penilaian kita," tambahnya.

Manusia akan mencari karakteristik tertentu untuk membantu mereka menilai dengan cepat apakah ada sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang baru akan lebih menakutkan buat manusia karena kita tidak memiliki pengalaman dengan hal baru itu, kata Ropeik menjelaskan.

Itu mengapa Ebola terlihat menakutkan daripada flu--meskipun faktanya adalah flu membunuh antara 3.000 hingga 49.000 orang setiap tahunnya, sedangkan Ebola hanya membunuh hanya satu orang di Amerika.

"Menghadapi sesuatu yang baru dan tidak memiliki pengetahuan tentang itu menimbulkan rasa bahwa kita harus bisa melindungi diri sendiri," kata Ropeik.

Orang juga merasakan bahwa sekali saja orang terjangkit virus Ebola, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan tentang itu (tidak ada obat untuk Ebola), dan memiliki tingkat kefatalan yang tinggi, kata Ropelik.

Gejala Ebola--yang meliputi muntah dan pendarahan--juga mempengaruhi persepsi kita tentang penyakit ini karena kesannya semakin banyak rasa sakit dan penderitaan. Ini membuat kita jadi ketakutan, kata Ropeik.

Faktor lain yang membuat orang lebih takut Ebola adalah karena berita-berita tentang virus mematikan ini telah menjadi berita utama di berbagai media massa. Tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan terhadap Ebola.

Orang harus menyadari bahwa emosi bisa menimbulkan persepsi, kata Ropeik. Jadi orang harus mencoba untuk tidak membuat penilaian spontan, dan mencari fakta--antara lain soal bagaimana Ebola menyebar, tambahnya.

Jangan khawatir terlalu berlebihan, sebab tingat kekhawatiran yang tidak sesuai bukti bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Kecemasan berlebihan akan menimbulkan stres dan bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh kita, demikian pungkas Ropeik.

Asal Mula Virus Ebola dan Nama Virus Ebola Dinamai

Pertama kali penyakit Ebola belumlah ada nama ketika sebuah virus yang mematikan dan misterius mulai merebak dan menghancurkan Afrika Barat 38 tahun silam. Penyakit itu pertama kali terjadi di Zaire, yang sekarang bernama Republik Demokratik Kongo.

Dilansir livescience.com. Tim peneliti internasional yang ditugaskan untuk menyelidiki wabah pada tahun 1976 itu terkejut atas penyakit misterius ini. Adalah Dr. Peter Piot, peneliti pertama yang meneliti virus itu, mengingat dalam buku memoarnya berjudul "No Time To Lose: A Life in Pursuit of Deadly Viruses." (W. W. Norton & Company, 2012).

Para peneliti telah melihat sampel darah yang dikirimkan dari Afrika di bawah mikroskop di laboratorium Belgia, dan virus itu terlihat seperti cacing atau tali panjang, sangat berbeda dari virus yang telah banyak diketahui peneliti.

Dan ketika tim sampai di tanah Zaire, mereka melihat bagaimana virus itu menyebar dengan cepat dan bagaimana korban terbunuh dengan cepat. Mereka tahu bahwa mereka harus menemukan pola bagaimana virus misterius baru ini ditularkan, apa yang terjadi dalam tubuh, dan bagaimana bisa menghentikannya. Mereka juga harus memberi nama untuk virus baru ini.

Cerita mengenai bagaimana Ebola mendapatkan namanya tergolong unik, tulis Piot dalam bukunya. Pada suatu malam, tim peneliti mendiskusikan virus Kentucky bourbon yang baru mereka namai.

Lalu virus di Zaire ini ditemukan di pedesaan yang bernama Yambuku. Salah satu anggota tim peneliti bernama Dr. Pierre Sureau, dari Institut Pasteur di Prancis berkata "Nama desa itu bisa kita jadikan nama virus."

Tetapi menamakan virus itu dengan Yambuku akan menimbulkan stigma yang buruk tentang desa itu, kata peneliti lain, Dr. Joel Breman, dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Ini pernah terjadi sebelumnya, contohnya, virus Lassa, yang terjadi di kota Lassa di Nigeria pada 1969. Lalu Karl Johnson, yang juga dari CDC dan pemimpin tim peneliti menyarankan agar penamaan virus itu dengan nama sungai, agar mengecilkan penekanan stigma terhadap tempat tertentu.

Salah satu pilihan yang jelas, yakni Sungai Kongo--sungai terdalam di dunia dan mengalir melalui negara dan hutan hujan tropis Kongo. Tetapi masalahnya, sudah ada virus lain dengan nama serupa. Virus Crimean-Congo adalah untuk salah satu jenis penyebab demam berdarah.

Kemudian para peneliti melihat peta kecil, dan menempelkannya pada dinding, mereka mencari sungai lain di dekat Yambuku. Pada peta, ternyata sungai terdekat dari Yambuku adalah Ebola, yang berarti "Black River" di bahasa Lingala setempat.

Namun ternyata peta itu tidak akurat, dan Sungai Ebola bukanlah sungai terdekat dari Yambubuku, lanjut Piot. "Tetapi dalam kondisi yang terlalu lelah, kami pun putuskan untuk menyebut virus itu: Ebola."

Dan kemudian Ebola bergabung dengan daftar nama virus yang diberi berdasarkan nama sungai. Sebagian dari virus dengan nama sungai adalah virus nyamuk Ross--yang diambil dari nama sebuah sungai di utara negara bagian Queensland, Australia. Ada juga virus Machupo, yang menyebabkan demam berdarah di Bolivia, atau "black typus" dan dinamai nama Sungai Bolivia.

Begitu juga dengan virus lain yang dinamai sesuai tempat ditemukannya, termasuk virus West Nile yang ditemukan 1937,  virus Coxsackie ditemukan 1948 (Coxsackie adalah sebuah kota di New York), Marburg ditemukan 1967 (Marburg adalah kota di Jerman), Hendra diidentifikasi pada 1994 (Henda adalah daerah pinggir Kota Brisbane, Australia).

Tahun lalu, setelah berbulan-bulan disebut dengan beberapa nama, akhirnya penemuan virus terbaru coronavirus secara resmi dinamakan--Middle East Sindrom Pernapasan coronavirus, atau MERS-CoV.
Berita Kesehatan

Asal Mula Virus Ebola dan Nama Virus Ebola Dinamai

Posted by Admin  |  No comments

Asal Mula Virus Ebola dan Nama Virus Ebola Dinamai

Pertama kali penyakit Ebola belumlah ada nama ketika sebuah virus yang mematikan dan misterius mulai merebak dan menghancurkan Afrika Barat 38 tahun silam. Penyakit itu pertama kali terjadi di Zaire, yang sekarang bernama Republik Demokratik Kongo.

Dilansir livescience.com. Tim peneliti internasional yang ditugaskan untuk menyelidiki wabah pada tahun 1976 itu terkejut atas penyakit misterius ini. Adalah Dr. Peter Piot, peneliti pertama yang meneliti virus itu, mengingat dalam buku memoarnya berjudul "No Time To Lose: A Life in Pursuit of Deadly Viruses." (W. W. Norton & Company, 2012).

Para peneliti telah melihat sampel darah yang dikirimkan dari Afrika di bawah mikroskop di laboratorium Belgia, dan virus itu terlihat seperti cacing atau tali panjang, sangat berbeda dari virus yang telah banyak diketahui peneliti.

Dan ketika tim sampai di tanah Zaire, mereka melihat bagaimana virus itu menyebar dengan cepat dan bagaimana korban terbunuh dengan cepat. Mereka tahu bahwa mereka harus menemukan pola bagaimana virus misterius baru ini ditularkan, apa yang terjadi dalam tubuh, dan bagaimana bisa menghentikannya. Mereka juga harus memberi nama untuk virus baru ini.

Cerita mengenai bagaimana Ebola mendapatkan namanya tergolong unik, tulis Piot dalam bukunya. Pada suatu malam, tim peneliti mendiskusikan virus Kentucky bourbon yang baru mereka namai.

Lalu virus di Zaire ini ditemukan di pedesaan yang bernama Yambuku. Salah satu anggota tim peneliti bernama Dr. Pierre Sureau, dari Institut Pasteur di Prancis berkata "Nama desa itu bisa kita jadikan nama virus."

Tetapi menamakan virus itu dengan Yambuku akan menimbulkan stigma yang buruk tentang desa itu, kata peneliti lain, Dr. Joel Breman, dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Ini pernah terjadi sebelumnya, contohnya, virus Lassa, yang terjadi di kota Lassa di Nigeria pada 1969. Lalu Karl Johnson, yang juga dari CDC dan pemimpin tim peneliti menyarankan agar penamaan virus itu dengan nama sungai, agar mengecilkan penekanan stigma terhadap tempat tertentu.

Salah satu pilihan yang jelas, yakni Sungai Kongo--sungai terdalam di dunia dan mengalir melalui negara dan hutan hujan tropis Kongo. Tetapi masalahnya, sudah ada virus lain dengan nama serupa. Virus Crimean-Congo adalah untuk salah satu jenis penyebab demam berdarah.

Kemudian para peneliti melihat peta kecil, dan menempelkannya pada dinding, mereka mencari sungai lain di dekat Yambuku. Pada peta, ternyata sungai terdekat dari Yambuku adalah Ebola, yang berarti "Black River" di bahasa Lingala setempat.

Namun ternyata peta itu tidak akurat, dan Sungai Ebola bukanlah sungai terdekat dari Yambubuku, lanjut Piot. "Tetapi dalam kondisi yang terlalu lelah, kami pun putuskan untuk menyebut virus itu: Ebola."

Dan kemudian Ebola bergabung dengan daftar nama virus yang diberi berdasarkan nama sungai. Sebagian dari virus dengan nama sungai adalah virus nyamuk Ross--yang diambil dari nama sebuah sungai di utara negara bagian Queensland, Australia. Ada juga virus Machupo, yang menyebabkan demam berdarah di Bolivia, atau "black typus" dan dinamai nama Sungai Bolivia.

Begitu juga dengan virus lain yang dinamai sesuai tempat ditemukannya, termasuk virus West Nile yang ditemukan 1937,  virus Coxsackie ditemukan 1948 (Coxsackie adalah sebuah kota di New York), Marburg ditemukan 1967 (Marburg adalah kota di Jerman), Hendra diidentifikasi pada 1994 (Henda adalah daerah pinggir Kota Brisbane, Australia).

Tahun lalu, setelah berbulan-bulan disebut dengan beberapa nama, akhirnya penemuan virus terbaru coronavirus secara resmi dinamakan--Middle East Sindrom Pernapasan coronavirus, atau MERS-CoV.

Tuesday, 14 October 2014

Jangan Pernah Menyimpan Sikat Gigi di Kamar Mandi

Banyak orang mengira jika sehari menyikat gigi dua kali sudah bagus, namun hal tersebut ternyata masih belum cukup. Tempat penyimpanan sikat gigi pun punya dampak besar terhadap kebersihan gigi. Sikat gigi yang disimpan di kamar mandi lebih berpotensi menyimpan bakteri.

Menurut Prof drg Melanie S Djamil, bulu sikat adalah bagian yang rentan menyerap segala sesuatu dari lingkungan. "Bulu sikat yang lembab bisa jadi tempat berkumpulnya kuman dan bakteri," katanya.

Selain itu, sikat gigi juga sebaiknya disimpan terpisah dengan toilet atau kamar mandi. "Kamar mandi yang berbau menandakan adanya gas. Oleh karena itu, sebaiknya simpan sikat gigi di luar toilet," ujar Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta ini.

Perawatan lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga kebersihan sikat gigi adalah selalu mengeringkan sikat gigi setelah digunakan, jangan ditutup dalam kondisi basah, dan letakkan di tempat yang memiliki penyekat atau tidak menempel dengan sikat gigi lainnya.

"Gerakan menyikat gigi juga memengaruhi agar bakteri dalam mulut mati. Jika kita asal-asalan menyikat, itu hanya memindahkan bakteri saja dari sikat ke mulut," paparnya.

Melanie menambahkan, dalam rongga mulut bisa terdapat berbagai macam bakteri. "Gusi bengkak, sisa makanan, dan gigi berlubang juga bisa menjadi sumber bakteri. Nah, bakteri ini bisa berpindah ke sikat gigi," ujarnya.
Features

Jangan Pernah Menyimpan Sikat Gigi di Kamar Mandi

Posted by Admin  |  No comments

Jangan Pernah Menyimpan Sikat Gigi di Kamar Mandi

Banyak orang mengira jika sehari menyikat gigi dua kali sudah bagus, namun hal tersebut ternyata masih belum cukup. Tempat penyimpanan sikat gigi pun punya dampak besar terhadap kebersihan gigi. Sikat gigi yang disimpan di kamar mandi lebih berpotensi menyimpan bakteri.

Menurut Prof drg Melanie S Djamil, bulu sikat adalah bagian yang rentan menyerap segala sesuatu dari lingkungan. "Bulu sikat yang lembab bisa jadi tempat berkumpulnya kuman dan bakteri," katanya.

Selain itu, sikat gigi juga sebaiknya disimpan terpisah dengan toilet atau kamar mandi. "Kamar mandi yang berbau menandakan adanya gas. Oleh karena itu, sebaiknya simpan sikat gigi di luar toilet," ujar Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta ini.

Perawatan lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga kebersihan sikat gigi adalah selalu mengeringkan sikat gigi setelah digunakan, jangan ditutup dalam kondisi basah, dan letakkan di tempat yang memiliki penyekat atau tidak menempel dengan sikat gigi lainnya.

"Gerakan menyikat gigi juga memengaruhi agar bakteri dalam mulut mati. Jika kita asal-asalan menyikat, itu hanya memindahkan bakteri saja dari sikat ke mulut," paparnya.

Melanie menambahkan, dalam rongga mulut bisa terdapat berbagai macam bakteri. "Gusi bengkak, sisa makanan, dan gigi berlubang juga bisa menjadi sumber bakteri. Nah, bakteri ini bisa berpindah ke sikat gigi," ujarnya.

Masalah Besarkah Jika Gigi Mengalami Sensitif

Anda mungkin merasa jika gigi sensitif itu masalah biasa. Gangguan yang ditandai rasa tajam dan sesaat ini kerap mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun banyak orang masih memandang gigi sensitif sebelah mata.

Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian lembaga riset global, Ipsos, pada tahun 2011 yang menyatakan, 45 persen orang Indonesia mengalami gigi sensitif. Tapi 52 persen tidak menyadarinya dan tidak memeriksakan diri ke dokter gigi. Sebanyak 75 persen bahkan belum menangani gigi sensitif dengan baik dan benar, demikian dikutip lewat laman Kompas.com.

"Gigi sensitif merupakan masalah gaya hidup. Terlalu banyak makan hidangan manis, keras, berlemak dan cara sikat gigi yang salah menjadi penyebab utama pengikisan email," kata GSK Dental Detailing Manager Ariandes Veddytaro di Jakarta.

Pada saat gigi sensitif terjadi seketika. Gangguan ini baru muncul ketika usia 20-50 tahun. Meski begitu, Andreas tidak menampik adanya masalah penipisan email yang terjadi sejak lahir. Hal ini disebut dengan anomali email gigi.

Gigi sensitif tidak disebabkan gangguan bakteri atau virus, semata karena pengikisan lapisan pelindung gigi. Masalah gigi sensitif merupakan manifestasi kesalahan sikat gigi dan masalah konsumsi hidangan yang tidak diperhatikan.

"Kebanyakan orang cuek. Ngilu, tapi tetap makan yang berasa tajam atau bersuhu ekstrem. Seharusnya segera ke dokter," kata Ariandes.

Cara menyikat gigi yang terlalu keras memperparah pengikisan email. Hal ini berpotensi mengekspos lapisan saraf pada gigi. Akibatnya sedikit stimulus akan menimbulkan rasa ngilu pada ujung saraf.

Hal ini diperparah dengan keputusan tidak memilih sikat dan pasta gigi yang benar sesuai kebutuhan. Padahal, cara dan bahan sikat gigi yang tepat dapat menghindarkan gigi dari abrasi email.

Sikat dan pasta gigi yang tepat

Pemilihan pasta dan sikat gigi yang tepat dapat menjadi alternatif pencegahan timbulnya masalah gigi sensitif.  Kandungan potassium nitrat dalam pasta gigi untuk gigi sensitif akan menimbulkan rasa nyaman pada saraf gigi. Sehingga rasa dan suhu ekstrim tidak menimbulkan 'kejutan' pada gigi. "Pasta gigi untuk gigi sensitif juga bisa dipakai semua orang. Tidak perlu menunggu gigi sensitif dulu," kata Ariandes.

Hal ini dikarenakan dalam pasta gigi untuk gigi sensitif juga terkandung berbagai bahan untuk perlindungan gigi. Ariandes juga menyarankan untuk memilih sikat gigi berbahan halus. Hal ini supaya gigi tidak bergesekan terlalu keras dengan sikat, ketika dibersihkan. Tekanan yang terlalu besar menimbulkan rasa tidak nyaman dalam mulut. Jika diteruskan akan terjadi abrasi email yang menyebabkan gigi ngilu.

"Sikat gigi tidak perlu terlalu keras, yang penting nyaman di mulut. Sikat juga tidak perlu terlalu sering cukup 2 kali, setelah makan pagi dan sebelum tidur malam," kata Ariandes. Sikat gigi terlalu sering berpotensi mengikis email, yang menyebabkan gigi lebih sensitif.
Features

Masalah Besarkah Jika Gigi Mengalami Sensitif

Posted by Admin  |  No comments

Masalah Besarkah Jika Gigi Mengalami Sensitif

Anda mungkin merasa jika gigi sensitif itu masalah biasa. Gangguan yang ditandai rasa tajam dan sesaat ini kerap mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun banyak orang masih memandang gigi sensitif sebelah mata.

Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian lembaga riset global, Ipsos, pada tahun 2011 yang menyatakan, 45 persen orang Indonesia mengalami gigi sensitif. Tapi 52 persen tidak menyadarinya dan tidak memeriksakan diri ke dokter gigi. Sebanyak 75 persen bahkan belum menangani gigi sensitif dengan baik dan benar, demikian dikutip lewat laman Kompas.com.

"Gigi sensitif merupakan masalah gaya hidup. Terlalu banyak makan hidangan manis, keras, berlemak dan cara sikat gigi yang salah menjadi penyebab utama pengikisan email," kata GSK Dental Detailing Manager Ariandes Veddytaro di Jakarta.

Pada saat gigi sensitif terjadi seketika. Gangguan ini baru muncul ketika usia 20-50 tahun. Meski begitu, Andreas tidak menampik adanya masalah penipisan email yang terjadi sejak lahir. Hal ini disebut dengan anomali email gigi.

Gigi sensitif tidak disebabkan gangguan bakteri atau virus, semata karena pengikisan lapisan pelindung gigi. Masalah gigi sensitif merupakan manifestasi kesalahan sikat gigi dan masalah konsumsi hidangan yang tidak diperhatikan.

"Kebanyakan orang cuek. Ngilu, tapi tetap makan yang berasa tajam atau bersuhu ekstrem. Seharusnya segera ke dokter," kata Ariandes.

Cara menyikat gigi yang terlalu keras memperparah pengikisan email. Hal ini berpotensi mengekspos lapisan saraf pada gigi. Akibatnya sedikit stimulus akan menimbulkan rasa ngilu pada ujung saraf.

Hal ini diperparah dengan keputusan tidak memilih sikat dan pasta gigi yang benar sesuai kebutuhan. Padahal, cara dan bahan sikat gigi yang tepat dapat menghindarkan gigi dari abrasi email.

Sikat dan pasta gigi yang tepat

Pemilihan pasta dan sikat gigi yang tepat dapat menjadi alternatif pencegahan timbulnya masalah gigi sensitif.  Kandungan potassium nitrat dalam pasta gigi untuk gigi sensitif akan menimbulkan rasa nyaman pada saraf gigi. Sehingga rasa dan suhu ekstrim tidak menimbulkan 'kejutan' pada gigi. "Pasta gigi untuk gigi sensitif juga bisa dipakai semua orang. Tidak perlu menunggu gigi sensitif dulu," kata Ariandes.

Hal ini dikarenakan dalam pasta gigi untuk gigi sensitif juga terkandung berbagai bahan untuk perlindungan gigi. Ariandes juga menyarankan untuk memilih sikat gigi berbahan halus. Hal ini supaya gigi tidak bergesekan terlalu keras dengan sikat, ketika dibersihkan. Tekanan yang terlalu besar menimbulkan rasa tidak nyaman dalam mulut. Jika diteruskan akan terjadi abrasi email yang menyebabkan gigi ngilu.

"Sikat gigi tidak perlu terlalu keras, yang penting nyaman di mulut. Sikat juga tidak perlu terlalu sering cukup 2 kali, setelah makan pagi dan sebelum tidur malam," kata Ariandes. Sikat gigi terlalu sering berpotensi mengikis email, yang menyebabkan gigi lebih sensitif.

Beginilah Cara Menyikat Gigi Dengan Benar

Sejak kita mengenal logika kita sudah diajarkan orang tua bagaimana menyikat gigi dengan benar. Namun membersihkan gigi tak bisa asal sikat, tentu ada beberapa langkah-langkah penyikatan yang perlu diketahui agar gigi bersih maksimal.

Masih banyaknya orang yang belum mengetahui cara menyikat gigi dengan benar atau belum mempraktekkannya dengan benar tercermin dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013. Disebutkan, sebanyak 98,1 persen warga DKI Jakarta sudah menyikat gigi dua kali dalam sehari, tetapi hanya 3,5 persen penduduk yang telah menyikat gigi dengan benar.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI), Yosi Kusuma Eriwati kembali mengingatkan bahwa sikat gigi yang benar adalah dengan gerakan dua arah ke atas dan ke bawah atau berputar.

"Permukaan gigi kita sikat dengan baik, jangan satu arah dan jangan keras-keras nanti bagian gusinya terkikis," ujar Yosi saat ditemui di FKG UI, Salemba, Jakarta, Senin (13/10/2014).

Menyikat gigi pun sebaiknya dilakukan dengan lembut hingga sisa-sisa makanan benar-benar bersih. Yosi mengatakan, Dental Care Associates bahkan menyarankan menyikat gigi selama dua menit. Selain itu, setelah menyikat gigi sebaiknya hanya kumur-kumur sebanyak satu kali saja.

"Kalau terlalu banyak kumur-kumur, fluoride dari pasta giginya bisa hilang, enggak nempel. Padahal gigi membutuhkan itu," kata Yosi.

Fluoride dibutuhkan untuk mencegah bakteri yang merusak gigi atau mencegah gangguan gigi sensitif karena penipisan enamel (lapisan terluar) gigi. Selain itu bagian langit-langit mulut dan lidah sebaiknya juga disikat halus. Sebab, bagian ini juga bisa menyimpan bakteri jika tidak dibersihkan. Gunakan lah sikat gigi yang lembut.

Adapun waktu menyikat gigi yang tepat yaitu setelah sarapan pagi dan sebelum tidur. Mengenai hal ini, ternyata tak banyak pula yang mengetahuinya. Berdasarkan Riskedas 2013, 43,4 persen penduduk DKI Jakarta telah menyikat gigi sebelum tidur, tetapi hanya 4,3 persen yang menyikat gigi setelah sarapan.

Yosi menjelaskan, jeda waktu antara sarapan dan makan siang cukup lama. Jika makanan setelah sarapan tidak dibersihkan, bakteri akan menumpuk dan bisa membuat gigi berlubang. "Secepat mungkin dibersihkan setelah sarapan. Kalau memang enggak sempat, ya kumur-kumur dulu," kata Yosi.
Features

Beginilah Cara Menyikat Gigi Dengan Benar

Posted by Admin  |  No comments

Beginilah Cara Menyikat Gigi Dengan Benar

Sejak kita mengenal logika kita sudah diajarkan orang tua bagaimana menyikat gigi dengan benar. Namun membersihkan gigi tak bisa asal sikat, tentu ada beberapa langkah-langkah penyikatan yang perlu diketahui agar gigi bersih maksimal.

Masih banyaknya orang yang belum mengetahui cara menyikat gigi dengan benar atau belum mempraktekkannya dengan benar tercermin dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013. Disebutkan, sebanyak 98,1 persen warga DKI Jakarta sudah menyikat gigi dua kali dalam sehari, tetapi hanya 3,5 persen penduduk yang telah menyikat gigi dengan benar.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI), Yosi Kusuma Eriwati kembali mengingatkan bahwa sikat gigi yang benar adalah dengan gerakan dua arah ke atas dan ke bawah atau berputar.

"Permukaan gigi kita sikat dengan baik, jangan satu arah dan jangan keras-keras nanti bagian gusinya terkikis," ujar Yosi saat ditemui di FKG UI, Salemba, Jakarta, Senin (13/10/2014).

Menyikat gigi pun sebaiknya dilakukan dengan lembut hingga sisa-sisa makanan benar-benar bersih. Yosi mengatakan, Dental Care Associates bahkan menyarankan menyikat gigi selama dua menit. Selain itu, setelah menyikat gigi sebaiknya hanya kumur-kumur sebanyak satu kali saja.

"Kalau terlalu banyak kumur-kumur, fluoride dari pasta giginya bisa hilang, enggak nempel. Padahal gigi membutuhkan itu," kata Yosi.

Fluoride dibutuhkan untuk mencegah bakteri yang merusak gigi atau mencegah gangguan gigi sensitif karena penipisan enamel (lapisan terluar) gigi. Selain itu bagian langit-langit mulut dan lidah sebaiknya juga disikat halus. Sebab, bagian ini juga bisa menyimpan bakteri jika tidak dibersihkan. Gunakan lah sikat gigi yang lembut.

Adapun waktu menyikat gigi yang tepat yaitu setelah sarapan pagi dan sebelum tidur. Mengenai hal ini, ternyata tak banyak pula yang mengetahuinya. Berdasarkan Riskedas 2013, 43,4 persen penduduk DKI Jakarta telah menyikat gigi sebelum tidur, tetapi hanya 4,3 persen yang menyikat gigi setelah sarapan.

Yosi menjelaskan, jeda waktu antara sarapan dan makan siang cukup lama. Jika makanan setelah sarapan tidak dibersihkan, bakteri akan menumpuk dan bisa membuat gigi berlubang. "Secepat mungkin dibersihkan setelah sarapan. Kalau memang enggak sempat, ya kumur-kumur dulu," kata Yosi.

Berita inspirasi dan temukan berita yang Anda mau disini
Healthmails
#Temukan segala impian wanita dan berbagai ragam gaya hidup.
Get updates in your email box
Complete the form below, and we'll send you the best coupons.

Deliver via FeedBurner

Ladiesmail.us

Sains

Themes

Copyright © 2015. Healthmails
Template by: Bloggertheme9